Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih"QS Ibrohim ayat 7.

Kamis, 10 Mei 2018

PENGARUH KETURUNAN DAN LINGKUNGAN TERHADAP PERKEMBANGAN ANAK DALAM PERSPEKTIF ISLAM


Berbicara Perkembangan anak maka tidak akan terlepas dari membicarakan faktor yang dapat mempengaruhinya. Dalam perspektif teori barat ada beberapa teori diantaranya aliran pesimisme yang berpendapat bahwa perkembangan anak seluruhnya ditentukan oleh hukum-hukum pewarisan. Sifat-sifat dan pembawaan orang tua dan nenek moyang mengalir sepanjang perkembangan anak dengan kata lain perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh genetik, pembawaan/keturunan. Dipihak lain ada yang berpendapat bahwa manusia dapat dibentuk melalui pemilihan lingkungan yang tepat, perbaikan keadaan kehidupan sosial dan pengaruh-pengaruh yang bersifat mendidik dengan kata lain bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh lingkungan dan ini yang menjadi pendapat aliran Optimisme. Kemudian ada lagi aliran yang   disebut teori konvergensi, yang berpendapat bahwa pembawaan/genetik sama pentingnya kedua-duanya sama berpengaruh.
            Dalam Islam hal apapun yang dijadikan landasan utama adalah Al-qur’an dan hadis termasuk dalam hal perkembangan anak dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Apalagi sebelum ada beberapa teori diatas Al-qur’an dan hadis sudah menjelaskanya.
Berikut beberapa ungkapan Al-qur’an dan hadis tentang hal itu:
1.      Faktor Genetik/Keturunan dalam mempengaruhi perkembangan anak
Firman Allah:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفاً فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ -٣٠-
Artinya : Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah Menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,
(QS. Ar-Rum ayat 30)
Firman Allah:
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتَ بِرَبِّكُمْ قَالُواْ بَلَى شَهِدْنَا أَن تَقُولُواْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ -١٧٢-
Artinya : Dan (ingatlah) ketika Tuhan-mu Mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah Mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya Berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhan-mu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami Lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini,”
(QS. Al-A’raf ayat 172)
Allah berfirman :
لَّيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَـكِنَّ اللّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ وَمَا تُنفِقُواْ مِنْ خَيْرٍ فَلأنفُسِكُمْ وَمَا تُنفِقُونَ إِلاَّ ابْتِغَاء وَجْهِ اللّهِ وَمَا تُنفِقُواْ مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنتُمْ لاَ تُظْلَمُونَ -٢٧٢-
Artinya : Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan). (QS. Al-baqarah ayat 272)
Nabi SAW bersabda :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Wanita itu dinikahi karena empat hal, karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu akan beruntung." ( HR Bukhari)
Berdasar beberapa ayat dan hadis diatas dapat dikatakan bahwa faktor genetik/ pembawaan /keturunan memiliki pengaruh terhadap perkembangan anak namun hal tersebut tidak sepenuhnya Allah telah berfirman :
إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Artinya : Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. ( QS. Ar-Ra’d ayat 11)
Berdasar ayat ini maka kedaan seseorang masih memungkinkan untuk dapat dirubah sesuai dengaan usahanya.
Begitupula pada hadis Nabi diatas jika dikaitkan dengan perkembangan anak maka keturunan juga memiliki pengaruh terhadap perkembangan anak sebab pada hadis diatas telah dijelaskan bahwa diantara empat kriteria seorang wanita yang akan dinikahi salah satunya adalah faktor keturunan, dimaksudkan wanita yang berasal dari keturunan yang baik akan menghasilkan anak/keturunan yang baik juga dapat mendidik anak-anaknya dengan baik namun perlu juga diketahui bahwa diantara empat kriteria tersebut Nabi menekankan agar memilih dari faktor agama ini menunjukan bahwa seorang istri yang agamanya baik maka dia akan dapat membentuk lingkungan pendidikan yang baik bagi anak-anaknya kelak.
                                                                                                            
Riwayat yang lain nabi bersabda :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُعَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ وَكَّلَ فِي الرَّحِمِ مَلَكًا فَيَقُولُ يَا رَبِّ نُطْفَةٌ يَا رَبِّ عَلَقَةٌ يَا رَبِّ مُضْغَةٌ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَخْلُقَهَا قَالَ يَا رَبِّ أَذَكَرٌ يَا رَبِّ أُنْثَى يَا رَبِّ شَقِيٌّ أَمْ سَعِيدٌ فَمَا الرِّزْقُ فَمَا الْأَجَلُ فَيُكْتَبُ كَذَلِكَ فِي بَطْنِ أُمِّهِ

dari Anas bin Malik radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya Allah Ta'ala menugaskan satu malaikat dalam rahim seseorang. Malaikat itu berkata; "Wahai Rabb, sekarang baru sperma, wahai Rabb, segumpal darah, wahai Rabb (sekarang jadi) segumpal daging". Maka bila Allah menghendaki menciptakan janin itu, malaikat itu berkata; "Wahai Rabb, laki-laki, wahai Rabb (atau) perempuan, Wahai Rabb sengsara atau bahagia, bagaimana rezekinya, kapan ajalnya. Demikianlah ditulis ketetapannya selagi berada di dalam perut ibunya". (HR. Bukhari).

2.      Faktor Lingkungan dalam mempengaruhi perkembangan anak
Manusia merupakan mahluk pedagogik yang dapat didik, dibimbing dan diarahkan untuk dapat mencapai tujuan dan cita-cita yang di inginkan.
Firman Allah
وَاللّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لاَ تَعْلَمُونَ شَيْئاً وَجَعَلَ لَكُمُ الْسَّمْعَ وَالأَبْصَارَ وَالأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ -٧٨-
Artinya : Dan Allah Mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia Memberimu pendengaran, penglihatan dan hati nurani, agar kamu bersyukur. (QS. An-Nahl Ayat 78). 

Firman Allah

وَمَا لَكُمْ أَلاَّ تَأْكُلُواْ مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللّهِ عَلَيْهِ وَقَدْ فَصَّلَ لَكُم مَّا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلاَّ مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ وَإِنَّ كَثِيراً لَّيُضِلُّونَ بِأَهْوَائِهِم بِغَيْرِ عِلْمٍ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِالْمُعْتَدِينَ -١١٩-
Artinya : Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas. (QS.Al-an’am ayat 119)

Firman Allah

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ -٦-
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim ayat 6)

Nabi Bersabda :

عَنْ أَبِي مُوسَى عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ الْهَمْدَانِيُّ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ بُرَيْدٍ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً
Dari Abu Musa RA dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, "Sesungguhnya perumpamaan teman dekat yang baik dan teman dekat yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Seorang penjual minyak wangi terkadang mengoleskan minyak wanginya kepada kamu dan terkadang kamu membelinya sebagian atau kamu dapat mencium semerbak harumnya minyak wangi itu. Sementara tukang pandai besi adakalanya ia membakar pakaian kamu ataupun kamu akan mencium baunya yang tidak sedap" {HR. Muslim }
Rosulullah bersabda:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَأَنْ أَقْعُدَ مَعَ قَوْمٍ يَذْكُرُونَ اللَّهَ تَعَالَى مِنْ صَلَاةِ الْغَدَاةِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتِقَ أَرْبَعَةً مِنْ وَلَدِ إِسْمَعِيلَ وَلَأَنْ أَقْعُدَ مَعَ قَوْمٍ يَذْكُرُونَ اللَّهَ مِنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ إِلَى أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ أَحَبُّ إِلَيَّ مَنْ أَنْ أَعْتِقَ أَرْبَعَةً
Dari Anas bin Malik, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya duduk bersama suatu kaum yang berdzikir dan mengingat Allah sejak waktu shalat Subuh hingga terbitnya matahari, adalah lebih aku cintai daripada memerdekakan empat budak dari keturunan Ismail. Sesungguhnya duduk bersama kaum yang berdzikir dan mengingat Allah mulai dari waktu shalat Ashar hingga terbenamnya matahari, adalah lebih aku cintai daripada memerdekakan empat budak. " (HR.Abu Daud)
Rosulullah bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ
Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, "Rasulullah SAW telah bersabda, 'Seorang bayi tidak dilahirkan {ke dunia ini} melainkan ia berada dalam kesucian {fitrah}. Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi (HR. Muslim)
Berdasar ayat dan hadis diatas dapat difahami bahwa pengaruh lingkungan juga besar pengaruhnya terhadap perkembangan anak. Dengan demikian dalam perspektif Islam Faktor genetik maupun faktor lingkungan sama-sama memiliki pengaruh terhadap perkembangan anak namun menurut pendapat saya faktor lingkungan memiliki pengaruh yang lebih besar daripada lingkungan hal ini didasarkan beberapa firman Allah berikut:
Firman Allah
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لأَبِيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَاماً آلِهَةً إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلاَلٍ مُّبِينٍ -٧٤-
Artinya: Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar "Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata."  ( Qs. Al-an’am Ayat 74)
Allah berfirman
وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَى نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَب مَّعَنَا وَلاَ تَكُن مَّعَ الْكَافِرِينَ -٤٢- قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاء قَالَ لاَ عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللّهِ إِلاَّ مَن رَّحِمَ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ -٤٣-
Artinya : 42. Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: "Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir."
43. Anaknya menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" Nuh berkata: "Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang." Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. (QS. Hud Ayat 42-43)
Ayat diatas menjelaskan keadaan bapak Nabi Ibrahim dan anak Nabi Nuh yang kafir.. Begitupula jika kita kembali membaca sejarah Sahabat Umar Bin Khattab, beliau bukanlah dari keturunan orang Muslim dan sebelum masuk Islam beliau bahkan hampir membunuh Nabi SAW. Ini menunjukan bahwa faktor keturunan bukanlah faktor utama yang mempengaruhi perkembangan anak.
Wallahu A’lam

SUJIMAN, S.Pd.I., M.A

Rabu, 02 Mei 2018

TRADISI KUPATAN DI MALAM NISFU SYA’BAN


TRADISI KUPATAN DI MALAM NISFU SYA’BAN


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ -٢٠٨-
            Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu”.  (Qur’an surat Al-baqarah ayat 208 )
            Tradisi KUPATAN(Ketupat) di bulan sya’ban (Malam Nisfu sya’ban) bagi sebagian masyarakat terutama masyarakat jawa sudah biasa dilakukan selama bertahun-tahun. Namun meskipun sudah bertahun-tahun melaksanakan tradisi itu tapi belum tentu semua orang mengetahui makna dari tradisi tersebut. Lalu apa maknanya? Dan adakah hal tersebut dalam syari’at Islam?.
Memang dalam  islam secara dhahir tidak ada syari’at semacam itu namun jika difahami secara makna  hal tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Islam. karena kata Kupatan diambil dari kata Kafatan (كَآفَّة) yang terdapat pada surat Al-baqarah ayat 208 yang artinya Jami’an atau keseluruhan. menurut Ibnu Katsir Kata kaffah pada ayat utama diatas artinya adalah   seluruh umat islam diperintahkan untuk mengerjakan semua cabang iman dan syari’at Islam. Apalagi dubulan sya’ban ini yang mana pada bulan ini adalah bulan diangkatnya semua amal manusia kepada Allah Rob semesta alam sebagaiman diterangkan dalam hadis berikut:
أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ حَدَّثَنَا ثَابِتُ بْنُ قَيْسٍ أَبُو الْغُصْنِ شَيْخٌ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
Telah mengabarkan kepada kami 'Amr bin 'Ali dari 'Abdurrahman dia berkata; telah menceritakan kepada kami Tsabit bin Qais Abu Al Ghushn - seorang syaikh dari penduduk Madinah - dia berkata; telah menceritakan kepadaku Abu Sa'id Al Maqburi dia berkata; telah menceritakan kepadaku Usamah bin Zaid dia berkata; Aku bertanya; "Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, aku tidak pernah melihat engkau berpuasa dalam satu bulan sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya'ban?" Beliau bersabda: "Itulah bulan yang manusia lalai darinya; -ia bulan yang berada- di antara bulan Rajab dan Ramadlan, yaitu bulan yang disana berisikan berbagai amal, perbuatan diangkat kepada Rabb semesta alam, aku senang amalku diangkat ketika aku sedang berpuasa." HR: Iman Nasa’i
Adapun KUPAT (Ketupat) itu dibuat dari daun kelapa yang masih muda disebut dengan JANUR, kata janur diambil dari kata Ja’a dan An-nur yang artinya datang cahaya. maksudnya pada ayat utama diatas orang mukmin diperintahkan untuk menjalankan syari’at Islam secara kaffah dan dilarang mengikuti langkah-langkah setan karena bagi orang yang beriman Allah akan menjadi pelindungnya dan akan mengeluarkanya dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Sedangkan orang yang mengikuti setan maka akan mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan, Allah berfirman:
اللّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُواْ يُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوُرِ وَالَّذِينَ كَفَرُواْ أَوْلِيَآؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُم مِّنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ -٢٥٧-
Artinya : “Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. (Qur’an Surat Al-baqarah ayat 257). Dengan demikian Caha/petunjuk dari Allah akan datang kepada Orang-orang yang beriman dan beramal Shaleh.
            KUPAT (Ketupat) dibuat memiliki dua ujung tegak lurus ke atas dan kebawah, Ujung ketas memiliki arti hubungan manusia dengan Allah (hablun minallah) sedangkan ujung yang kebawah memiliki arti hubungan manusia dengan manusia Hablun minannas) maksudnya Umat islam harus senantiasa menjaga hubungan baik dengan Allah dengan cara beriman dan beramal Shaleh secara Kaffah. sedangkan menjaga hubungan baik dengan sesama manusia dengan cara berperilaku baik terhadap sesama manusia. Seperti menjaga ucapan dan perbuatanya dari  yang dapat menyakiti orang lain. Bahkan kemampuan seseorang dalam menjaga ucapan dan perbuatan  menjadi indikator keislaman dan keimanan seseorang terkait dengan hal ini Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bersabda: "Seorang muslim adalah orang yang Kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya, dan seorang Muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah " (HR Bukhari).
Dari Abu Syuraih Al Khuza'i RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia berlaku baik terhadap tetangganya. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menghormati tamunya. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berbicara yang baik atau diam" (HR. Muslim ).
Kedua Ujung tegak lurus tersebut tidak akan terbentuk jika KUPAT (ketupat) tidak dianyam maka agar dapat terbentuk kedua ujung tersebut janur tadi harus di anyam dalam sebuah anyaman pasti ada yang diatas ada yang dibawah bergantian. Memiliki arti Hablun minallah dan hablun minan nas tidak akan terwujud ketika kita tidak mau bersatu dalam satu ikatan yang sama yaitu dalam ikatan ukhuwah islamiyah tanpa membedakan suku bangsa maupun status sosial. karena Allah telah memerintahkan Umat Islam agar bersatu. Allah berfirman  artinya : “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. (Qur’an Surat Ali-Imran ayat 103).
Agar terjalin hubungan baik umat Islam harus saling mengisi jangan saling mengolok-olok satu sama lain ketika diatas tidak boleh sombong dan merendahkan orang lain dan ketika dibawah tidak boleh rendah diri.sebagaimana firman Allah yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. (Qur’an Surat Al-hujurat ayat 11).
Sesama manusia tidak boleh saling mencari-cari kesalahan satu sama lain sebagaimana firman Allah yang artinya Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (Qur’an Surat Al-hujurat ayat 12)
Bahkan harus saling menutupi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak menzhaliminya dan tidak membiarkannya untuk disakiti. Siapa yang membantu kebutuhan saudaranya maka Allah akan membantu kebutuhannya. Siapa yang menghilangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah menghilangkan satu kesusahan baginya dari kesusahan-kesusahan hari qiyamat. Dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim maka Allah akan menutup aibnya pada hari qiyamat".HR Bukhari
KUPAT (Ketupat) setelah selesai dibuat diisi dengan beras yang berwarna putih, artinya suci. Ini mengandung arti bahwa sebelum beramal kita harus mensucikan diri dari semua dosa dengan banyak beristighfar memohon ampun kepada Allah. Allah berfirman yang artinya : Sesungguhnya “Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri”. (QS. Al-Baqarah Ayat 222) dan mensucikan niat dalam beribadah dari niat kepada selain Allah agar disaat semua amal kita dinaikan kepada Allah rab semesta alam dibulan sya’ban ini bisa sempurna karena semua amal tergantung pada niat kita. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; barangsiapa niat hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan.". HR. Bukhari.
            Itulah cara cerdas orang tua kita dahulu dalam mendidik dan mengajarkan ilmu kepada kita yang ditanamkan memalui tradisi. Dan inilah hakikat dari pendidikan karakter. Ternyata jauh sebelum pemerintah menerapkan pendidikan karakter orang tua kita dahulu sudah menerapkan-nya melalui tradisi.
Wallahu a’lam
SUJIMAN, S.Pd.I., M.A

Jumat, 27 April 2018

FILOSOFI JAWA NGONO YO NGONO NENG OJO NGONO


FILOSOFI JAWA NGONO YO NGONO NENG OJO NGONO
Assalamu ‘alaikum Wr Wb
                Dalam filsafat Jawa ada sebuah peribahasa yang berisi nasehat dari para orang tua yang dikenal dengan istilah “Ngono yo ngono neng ojo ngono” secara etimologi istilah tersebut berarti “begitu ya begitu tetapi jangan begitu”,agak membingungkan memang. Namun secara epistemology istilah tersebut berarti kita boleh berbuat begitu tetapi jangan terlalu begitu, maksudnya kita boleh berbuat apa saja tetapi jangan sampai berlebihan. Meskipun berasal dari adat jawa namun peribahasa tersebut bersifat universal untuk semua kultur, karena berisi nasehat dalam ber-etika dan berperilaku dalam kehidupan sehari- hari yakni agar berperilaku sewajarnya dan menjauhi perilaku berlebih-lebihan. Juga sejalan dengan ajaran Agama Islam sebab dalam ajaran Islam kita juga dilarang untuk bersikap dan berperilaku berlebih-lebihan karena Allah SWT tidak menyukai orang yang suka berlebih-lebihan sebagaimana Firmanya dalam Al-qur’an yang artinya : Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (Qur’an Surat Al-a’raaf ayat 31 ). Bahkan dalam ibadah sekalipun Islam juga melarang umatnya untuk berlebih-lebihan. Seperti diterangkan dalam beberapa Hadis berikut :
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
 "Jangan kalian berpuasa wishal!" Para sahabat menyatakan protesnya "Namun anda sendiri berpuasa wishal!" Nabi menjawab: "Aku tidak seperti kalian, Tuhanku selalu memberiku makan dan minum." Namun para sahabat tidak juga menghentikan wishalnya." Abu Hurairah melanjutkan, "Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam terus melakukan wishal bersama mereka dua hari atau dua malam, kemudian para sahabat melihat hilal (bulan sabit). Lantas Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kalaulah bulan sabit ini terlambat, niscaya aku tambah puasa wishalnya, " seolah-olah beliau ingin menghukum mereka." (HR: Bukhari).
Dari Anas RA, dia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Janganlah berlebih-lebihan dalam sujud dan janganlah salah seorang dari kamu membentangkan dua tangannya seperti anjing." (HR: Muslim).
Dari Abdullah bin Mas'ud RA, dia berkata, "Rasulullah SAW telah bersabda, 'Celakalah orang-orang yang berlebih-lebihan dalam berbuat,' {Beliau mengucapkannya tiga kali}." (HR: Muslim).
Dari Abdullah bin Amr, dia berkata, "Seorang Arab badui datang kepada Nabi SAW, kemudian bertanya kepada beliau tentang wudhu, maka Nabi SAW memperlihatkan padanya tiga kali-tiga kali, lalu bersabda, 'Beginilah cara berwudhu. Barangsiapa melebihkan bilangan tersebut, maka dia telah bertindak buruk atau melebihi batas atau telah berbuat aniaya'.(HR: Ibnu Majjah)
                Dari ayat maupun Hadis diatas sangat jelas bahwa Islam melarang sikap belebih-lebihan termasuk dalam urusan agama dikarenakan akan memberatkan diri seseorang.
Diriwayatakan dari Anas bin Malik radliallahu 'anhu berkata: "Pada suatu hari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam masuk (ke masjid), kemudian Beliau mendapati tali yang diikatkan dua tiang. Kemudian Beliau berkata: "Apa ini?" Orang-orang menjawab: "Tali ini milik Zainab, bila dia shalat dengan berdiri lalu merasa letih, dia berpegangan tali tersebut". Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jangan ia lakukan sedemikian itu. Hendaklah seseorang dari kalian tekun dalam ibadah shalatnya dan apabila dia merasa letih, shalatlah sambil duduk ( HR: Bukhari)
Dalam hadis lain 'Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash radliallahu 'anhuma berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepadaku: "Wahai 'Abdullah, apakah benar berita bahwa kamu puasa seharian penuh lalu kamu shalat malam sepanjang malam?" Aku jawab: "Benar, wahai Rasulullah". Beliau berkata: "Janganlah kamu lakukan itu, tetapi shaumlah dan berbukalah, shalat malamlah dan tidurlah, karena untuk jasadmu ada hak atasmu, matamu punya hak atasmu, isterimu punya hak atasmu dan isterimu punya hak atasmu. Dan cukuplah bagimu bila kamu berpuasa selama tiga hari dalam setiap bulan karena bagimu setiap kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kebaikan yang serupa dan itu berarti kamu sudah melaksanakan puasa sepanjang tahun seluruhnya". Maka kemudian aku meminta tambahan, lalu Beliau menambahkannya. Aku katakan: "Wahai Rasulullah, aku mendapati diriku memiliki kemampuan". Maka Beliau berkata: "Berpuasalah dengan puasanya Nabi Allah Daud Alaihissalam dan jangan kamu tambah lebih dari itu". Aku bertanya: "Bagaimanakah itu cara puasanya Nabi Allah Daud Alaihissalam?" Beliau menjawab: "Dia Alaihissalam berpuasa setengah dari puasa Dahar (puasa sepanjang tahun), caranya yaitu sehari puasa dan sehari tidak". Di kemudian hari 'Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash radliallahu 'anhuma berkata: "Duh, seandainya dahulu aku menerima keringanan yang telah diberikan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ".( HR: Bukhari)
            Oleh karena itu janganlah suka berlebih-lebihan termasuk dalam urusan agama , karena agama itu mudah tapi ingat jangan samapai mudah-mudahkan.
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya agama itu mudah, dan tidaklah seseorang mempersulit agama kecuali dia akan dikalahkan (semakin berat dan sulit). Maka berlakulah lurus kalian, mendekatlah (kepada yang benar) dan berilah kabar gembira dan minta tolonglah dengan Al Ghadwah (berangkat di awal pagi) dan ar-ruhah (berangkat setelah zhuhur) dan sesuatu dari ad-duljah ((berangkat di waktu malam) ". (HR: Bukhari).
Dalam riwayat lain Nabi Shallallahu'alaihiwasallam mengutus Mu'adz dan Abu Musa ke negeri Yaman dan Beliau berpesan: "Mudahkanlah (urusan) dan jangan dipersulit. Berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari (tidak tertarik) dan bekerja samalah kalian berdua dan jangan berselisih". (HR: Bukhari).
Suatu hari seorang wanita dari Bani Asad bersamaku saat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mendatangiku. Lalu Beliau bertanya: "Siapa dia?" Aku jawab: "Si anu, orang yang tidak tidur di waktu malam". Lantas diberitakan kepada Beliau tentang shalat wanita tersebut. Kemudian Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Celakalah kalian, mengapa kalian memaksakan amalan yang kalian tidak mampu? Sungguh Allah tidak bosan (memberi ganjaran) hingga kalian merasa bosan sendiri (jika terlalu memaksakan diri) ".(HR: Bukhari)
Terima Kasih. Semoga bermanfaat Amin yaa robbal ‘alamin
Wallahu a’lam Bishawab
Wassalamu ‘Alaikum Wr. Wb
SUJIMAN, S.Pd.I., M.A
Tulisan yang serupa dapat dibaca dil laman http://sujimanae.blogspot.com atau  facebook Jimmy gaeck.

POLIGAMI

POLIGAMI



وَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تُقْسِطُواْ فِي الْيَتَامَى فَانكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَاء مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُواْ فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّ تَعُولُواْ -٣-
Artinya : “Dan jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki.Yang demikian itu lebih dekat agar kamu tidak berbuat zalim”. (Qur’an Surat An-Nisa’Ayat 3)
Pada dasarnya pernikahan dalam Islam adalah monogami namun dalam keadaan tertentu Islam membolehkan poligami dengan syarat dapat berlaku adil. Sebagaimana dijelaskan pada ayat diatas. Namun untuk mendevinisikan kata dapat berlaaku adil inilah yang tidaklah mudah. Karena kata adil disini tidak semudah dan se-sederhana yang kita bayangkan. Mungkin diantara kita akan dengan mudah mendevinisikan kata adil ini dengan memberikan segala sesuatunya secara sama, baik tempat tinggal, nafkah maupun giliran. Sementara jika dikaji lebih dalam devinisi dapat berlaku adil ini tidaklah se-sederhana itu karena Allah telah berfirman:
وَلَن تَسْتَطِيعُواْ أَن تَعْدِلُواْ بَيْنَ النِّسَاء وَلَوْ حَرَصْتُمْ فَلاَ تَمِيلُواْ كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ وَإِن تُصْلِحُواْ وَتَتَّقُواْ فَإِنَّ اللّهَ كَانَ غَفُوراً رَّحِيماً -١٢٩
Artinya : “Dan kamu tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang”. (Qur’an Surat An-Nisa’ Ayat 129).
            Begitu pula dalam Undang-undang perkawinan Nomor 1 Tahun 74 Pasal 3 Ayat 2 Mensyaratkan adanya Izin dari Istri bagi suami yang menghendaki poligami itu artinya pemerintah memperketat dalam hal poligami. Tujunya tidak lain adalah melindungi hak wanita. Dengan demikian devinisi kata dapat berlaku adil itu tidaklah sesederhana yang kita bayangkan . Sebab bisa jadi suami yang menghendaki poligami akan beranggapan bahwa untuk dapat mengetahui mampu atau tidaknya berbuat adil jika sudah dicoba. Sementara dalam poligami lebih banyak membawa resiko. Karena pada dasarnya manusia itu mempunyai watak cemburu, iri hati sebagaimana telah dikisah oleh Qabil dan habil seperti diterangkan dalam Al-qur’an surat Al- Ma’idah ayat 30 Allah berfirman yang artinya : “Maka nafsu (Qabil) mendorongnya untuk membunuh saudaranya, kemudian dia pun (benar-benar) membunuhnya, maka jadilah dia termasuk orang yang rugi”. dan manusia juga suka mengeluh sebagaimana diterangkan dalam surat Al-Ma’aarij ayat 19 Allah berfirman yang artinya : Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir . Maka dalam keadaan Poligamis orang akan mudah terangsang timbulnya perasaan cemburu, iri hati terhadap istri yang lain akhirnya mengeluh sehingga dapat mengganggu ketenangan dan keutuhan keluarga. Apalagi sejak awal istri tidak memberikan izin namun suami memaksakan kehendak bearti telah menyakiti hati istri sedang dalam sebuah hadis diterangkan  bahwa Nabi SAW bersabda yang artinya : Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada istrinya, dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian kepada istriku."  HR Ibnu Majjah
            Belum lagi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda: "Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. Imam (kepala Negara) adalah pemimpin yang akan diminta pertanggung jawaban atas rakyatnya. Seorang suami dalam keluarganya adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban atas keluarganya. Seorang isteri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya dan akan diminta pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut. Seorang pembantu adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya dan akan diminta pertanggung jawaban atas urusan tanggung jawabnya tersebut". HR. Buhkari
Adapun pertanggung jawaban seorang suami yang tidak dapat berlaku adil atas kepemimpinan-nya terhadap istri Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Barang siapa memiliki dua orang istri dan ia condong kepada salah satunya, ia akan datang pada hari kiamat dengan tubuh miring." Riwayat Ahmad dan Imam Empat.
            Bukan berarti saya menolak Poligami atau mengingkari sunnah Rosul namun hanya ingin mengajak para suami agar tidak menganggap mudah masalah poligami dengan alasan sunnah Rosul. Karena poligami yang dilakukan Nabi sama sekali bukan karena dorongan, motif/tujuan untuk nafsu seks belaka tetapi tujunya adalah :
1.      Untuk Kepentingan Pendidikan dan pengajaran Agama.
2.      Untuk kepentingan politik mempersatukan  suku-suku bangsa arab dan menarik mereka masuk agama Islam.
3.      Untuk kepentingan sosial dan kemanusiaan.
Jika tujuan Nabi poligami untuk memuaskan nafsu tentunya Nabi mengawini gadis-gadis dari kalangan bangsawan dan dari berbagai suku. Tapi kenyataanya adalah Nabi pada usia 25 tahun kawin dengan Khotijah seorang janda umur 40 tahun. Sementara bagi kita kemungkinan lebih banyak terdorong oleh nafsu.
Wallahu a’lam
SUJIMAN, S.Pd.I., M.A

Minggu, 01 April 2018

KISAH INSPIRATIF ORANG YANG TIDAK PERNAH GAGAL


ASSALAMU’ALAIKUM WR. WB
Dalam menjalani kehidupan ini semua orang pasti selalu mengininkan keberhasilan, tidak ada seorang-pun yang menghendaki kegagalan. Namun pada kenyataanya tidak semua orang bisa berhasil, ada juga yang gagal bahkan sampai putus asa akibat dari kegagalanya tersebut. Itu semua dikarenakan mereka tidak mengetahui secara benar makna dan hakikat dari keberhasilan maupun kegagalan.
Oleh karena itu jika kita ingin selalu berhasil kita harus mengatahui faktor dan prinsip yang mempengaruhi atas keberhasilan atau kegagalan.
Untuk mengetahuinya mari simak kisah berikut :
Ada dua orang petani yang bernama Pak KARNO dan pak KARMIN (bukan nama sebenarnya), kedua-duanya ini masih awam dalam hal bertani sebab mereka berdua adalah petani pemula, meski sama-sama pemula tetapi keduanya memiliki sifat dan cara pandang yang berbeda yakni pak KARNO memiliki sifat sabar dan selalu berfikir optimis sedangkan pak KARMIN memiliki sifat pesimis dan mudah putus asa. Suatu ketika kedua petani ini sama-sama menanam padi diladang/sawah yang lokasi dan keadaan tanahnya sama. Karena pemula sehingga pengetahuanya dalam hal bertani masih minim. Akhirnya keduanya berdiskusi untuk memilih pupuk yang dianggap cocok untuk tanaman padi yang ditanamnya. Dari hasil diskusinya tersebut keduanya memutuskan menggunakan pupuk jenis “ABC”( jenis ilustrasi Bukan jenis pupuk sebenarnya), Tetapi pupuk jenis “ABC” tersebut sebenarnya tidak cocok untuk keadaan tanah mereka, karena pupuk yang digunakan tidak cocok akhirnya tanaman padi yang ditanam oleh kedua petani tersebut  tidak dapat mengahsilkan hasil panen yang bagus namun justru tanamanya menjadi rusak. Sebagai orang yang pesimis dan mudah putus asa ketika mengalami hal seperti itu pak KARMIN langsung menganggap bahwa usahanya tersebut telah “GAGAL” dan akhirnya tidak mau lagi untuk mencoba kembali. Berbeda dengan pak KARNO karena dia adalah orang yang sabar dan selalu optimis maka pak karno menganggap usahanya tersebut sebagai sebuah keberhasilan. Karena pak KARNO beranggaapan meskipun dia tidak dapat memperoleh hasil panen yang bagus, tetapi dia telah berhasil mengetahui bahwa pupuk jenis “ABC” tidak cocok untuk kadaan tanah dan tanaman padi yang ada diladangnya, hingga akhirnya pada kesempatan yang lain pak “KARNO” mencoba menanam padi lagi dengan pupuk jenis lain dan ternyata pupuk yang digunakan itu adalah pupuk yang tepat dan akhirnya menghasilkan hasil panen yang melimpah.
Kisah diatas menunjukkan bahwa cara pandang yang berbeda bisa menghasilkan penilaian yang berbeda terhadap suatu hal. Orang yang pesimis akan mudah menyerah dan mudah memandang buruk atas suatu hal, berbeda dengan orang yang selalu optimis dan sabar dia akan selalu memandang segala sesuatu dengan fikiran positif dia memandang ktidak berhasilanya dalam mencapai tujuan bukan sebagaisebagai “KEGAGALAN”. Namun dia akan memandangnya sebuah keberhasilan dalam bentuk yang lain.
Oleh karena itu janganlah mudah su’udzan kepada Allah karena kita tidak pernah mengetahu apa rencana Allah untuk kita. Dan janganlah mudah putus asa karena putus asa itu adalah akhlak tercela.
Allah berfirman :
artinya : Ibrahim berkata: "Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat." (Qur’an Surat Al-hijr ayat  56)
Dan bahkan orang yang berputus asa itu masuk kedalam kategori orang kafir, karena putus asa itu adalah sifatnya orang kafir.
Allah berfirman :
Artinya : Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir."
Wallahu a’lam
Semoga Allah senantiasa  melimpahkan rahmat dan taufiknya sehingga kita menjadi orang yang selalu sabar, tawakal dan optmis dalam segala hal. AMIN YAA RABBAL ‘ALAMIN
WASSALAMU’ALAIKUM WR. WB
SUJIMAN, S.Pd.I., M.A
Artikel lainya dapat dibaca di laman http://sujimanae.blogspot.com  dan facebook : Jimmy gaeck

Selasa, 27 Maret 2018

PERILAKU BAIK MENJADI LADANG PAHALA



Assalamu ‘alaikum Wr Wb.

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي الْمِيزَانِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ
Artinya : Dari Abu Darda', dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Tiada suatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin di hari Kiamat kelak daripada akhlak yang mulia" Shahih: At-Tirmidzi (2087)
Agama islam begitu memperhatikan tentang akhlak, sejarah telah mencatat bahwa Nabi Muhammad SAW yang diutus untuk menyampaikan syari’at Islam ini memulai dakwahnya melalui keteladanan dan akhlak yang baik, terbukti beliau sudah mendapat gelar AL-AMIN sebelum beliau diangkat menjadi Rosul dikarenakan beliau terkenal dengan kejujurannya.
Umat Islam diperintahkan untuk memiliki akhlak yang baik tidak hanya terhadap sesama manusia saja namun terhadap semua makhluk Allah baik terhadap binatang bahkan terhadap jin sekalipun diperintahkan untuk berlaku baik. Simak beberapa Hadis berikut :

1.      Perintah berbuat baik terhadap sesama manusia
Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia berlaku baik terhadap tetangganya. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menghormati tamunya. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berbicara yang baik atau diam" { HR. Muslim}
Dalam riwayat yang lain Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jibril senantiasa mewasiatkanku untuk berbuat baik terhadap tetangga sehingga aku mengira tetangga juga akan mendapatkan harta waris."

2.      Perintah berbuat baik terhadap binatang

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ سُمَيٍّ مَوْلَى أَبِي بَكْرٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ السَّمَّانِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيقٍ اشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطَشُ فَوَجَدَ بِئْرًا فَنَزَلَ فِيهَا فَشَرِبَ ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا كَلْبٌ يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنْ الْعَطَشِ فَقَالَ الرَّجُلُ لَقَدْ بَلَغَ هَذَا الْكَلْبَ مِنْ الْعَطَشِ مِثْلُ الَّذِي كَانَ بَلَغَ بِي فَنَزَلَ الْبِئْرَ فَمَلَأَ خُفَّهُ ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيهِ فَسَقَى الْكَلْبَ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَإِنَّ لَنَا فِي الْبَهَائِمِ أَجْرًا فَقَالَ نَعَمْ فِي كُلِّ ذَاتِ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ
Telah menceritakan kepada kami Isma'il telah menceritakan kepadaku Malik dari Sumayya bekas budak Abu Bakr, dari Abu Shalih As Samman dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Pada suatu ketika ada seorang laki-laki sedang berjalan melalui suatu jalan, lalu dia merasa sangat kehausan. Kebetulan dia menemukan sebuah sumur, maka dia turun ke sumur itu untuk minum. Setelah keluar dari sumur, dia melihat seekor anjing menjulurkan lidahnya menjilat-jilat tanah karena kehausan. Orang itu berkata dalam hatinya; 'Alangkah hausnya anjing itu, seperti yang baru ku alami.' Lalu dia turun kembali ke sumur, kemudian dia menciduk air dengan sepatunya, dibawanya ke atas dan diminumkannya kepada anjing itu. Maka Allah berterima kasih kepada orang itu (diterima-Nya amalnya) dan diampuni-Nya dosanya.' Para sahabat bertanya; 'Ya, Rasulullah! Dapat pahalakah kami bila menyayangi hewan-hewan ini? ' Jawab beliau: 'Ya, setiap menyayangi makhluk hidup adalah berpahala."

عن هِشَام بْن زَيْدِ بْنِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ دَخَلْتُ مَعَ جَدِّي أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ دَارَ الْحَكَمِ بْنِ أَيُّوبَ فَإِذَا قَوْمٌ قَدْ نَصَبُوا دَجَاجَةً يَرْمُونَهَا قَالَ فَقَالَ أَنَسٌ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تُصْبَرَ الْبَهَائِمُ
Artinya : Dari Hisyam bin Zaid bin Anas bin Malik, dia berkata, "Pada suatu hari saya dan kakek saya, Anas bin Malik, pernah bertandang ke rumah Al Hakam bin Ayyub. Di sana saya melihat orang-orang sedang memancang seekor ayam jantan untuk dijadikan sasaran panah. Kemudian kakek saya, Anas bin Malik, mengingatkan mereka dengan ucapan, 'Sesungguhnya Rasuiullah SAW melarang kaum muslimin untuk memancang hewan ternak' { HR. Muslim }
عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ ثِنْتَانِ حَفِظْتُهُمَا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ
Artinya : Dari Syaddad bin Aus RA, dia berkata, "Ada dua hal yang saya hafal dari Rasulullah SAW bahwasanya beliau telah bersabda, 'Sesungguhnya Allah telah menetapkan kebaikan pada segala sesuatu. Oleh karena itu, apabila kamu membunuh (dalam peperangan), maka lakukanlah pembunuhan dalam perang itu dengan sebaik-baiknya. Apabila kamu menyembelih, maka lakukanlah penyembelihan itu dengan sebaik-baiknya, dan hendaklah salah seorang darimu menajamkan pisau yang akan dipergunakan untuk menyembelih serta memperlakukan sembelihannya dengan sebaik-baiknya.''" {HR. Muslim }

3.      Perintah berbuat baik terhadap jin

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ قَالَ أَخْبَرَنِي جَدِّي عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ يَحْمِلُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِدَاوَةً لِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ فَبَيْنَمَا هُوَ يَتْبَعُهُ بِهَا فَقَالَ مَنْ هَذَا فَقَالَ أَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ فَقَالَ ابْغِنِي أَحْجَارًا أَسْتَنْفِضْ بِهَا وَلَا تَأْتِنِي بِعَظْمٍ وَلَا بِرَوْثَةٍ فَأَتَيْتُهُ بِأَحْجَارٍ أَحْمِلُهَا فِي طَرَفِ ثَوْبِي حَتَّى وَضَعْتُهَا إِلَى جَنْبِهِ ثُمَّ انْصَرَفْتُ حَتَّى إِذَا فَرَغَ مَشَيْتُ فَقُلْتُ مَا بَالُ الْعَظْمِ وَالرَّوْثَةِ قَالَ هُمَا مِنْ طَعَامِ الْجِنِّ وَإِنَّهُ أَتَانِي وَفْدُ جِنِّ نَصِيبِينَ وَنِعْمَ الْجِنُّ فَسَأَلُونِي الزَّادَ فَدَعَوْتُ اللَّهَ لَهُمْ أَنْ لَا يَمُرُّوا بِعَظْمٍ وَلَا بِرَوْثَةٍ إِلَّا وَجَدُوا عَلَيْهَا طَعَامًا
Artinya : Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma'il telah menceritakan kepada kami 'Amru bin Yahya bin Sa'id berkata, telah mengabarkan kepadaku kakekku dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu, bahwa dia pernah membawakan sebuah kantung air terbuat dari kulit untuk wudlu' dan hajat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Dan dia mengikuti beliau dengan membawa kantung air tersebut, beliau bertanya: "Siapakah ini?". Ia menjawab; "Saya Abu Hurairah". Maka beliau berkata: "Carikanlah aku beberapa batu untuk aku gunakan sebagai alat bersuci dan jangan bawakan aku tulang dan kotoran hewan". Kemudian aku datang dengan membawa beberapa batu dengan menggunakan ujung bajuku dan meletakkannya di samping beliau. Kemudian aku pergi. Ketika beliau telah selesai, aku berjalan bersama beliau bertanya; "kenapa dengan tulang dan kotoran hewan?". Beliau menjawab: "Keduanya termasuk makanan jin. Dan sesungguhnya pernah datang kepadaku utusan jin dari Nashibin, dia adalah sebaik-baik jin, lalu mereka meminta kepadaku tentang bekal. Maka aku memohon kepada Allah untuk mereka agar mereka tidak melewati tulang dan kotoran hewan melainkan mereka mendapatkannya sebagai makanan". (HR. Bukhari)
Selain hadis diatas masih banyak hadis lainya yang berisi perintah untuk berbuat baik terhadap sesama makhluk Allah. Maka sangat tidak tepat jika Islam dikatakan sebagai agama yang intoleran atau radikal. Sebab jangankan terhadap sesama manusia, bintang bahkan terhadap Jin sekalipun Islam telah memerintahkan umatnya untuk berperilaku baik, lebih-lebih terhadap manusia tentu Islam sangat menganjurkan umatnya untuk selalu berperilaku baik karena dengan perilaku baik tersebut pelakunya akan memperoleh banyak pahala sebagaimana dijelaskan dalam hadis utama diatas.
Dari hadis utama diatas dapat kita fahami bahwa amal dari perilaku yang baik itu lebih utama dibandingkan dengan dengan ibadah yang lain bahkan dengan ibadah shalat sekalipun meskipun amal yang pertama ditanyakan kelak diakhirat adalah amal shalat.  Sebagaimana dijelaskan dalam hadis berikut  yang artinya : Rasulullah SAW bersabda, 'Sesungguhnya yang pertama kali dihisab dari seorang hamba yang Muslim pada hari kiamat adalah shalat wajib. Jika dia menyempurnakannya dan jika tidak, maka akan dikatakan, 'Lihatlah apakah dia memiliki shalat sunah?' Jika dia memiliki shalat sunah, maka sempurnakanlah yang wajib dari yang sunahnya. Kemudian juga akan dilakukan hisab pada seluruh amalah yang wajib seperti itu"
Karena pada dasarnya tujuan daripada semua ibadah adalah supaya dapat melahirkan perilaku yang baik seperti diantaranya:

1.    Sholat
Tujuan disyari’atkanya sholat adalah supaya pelakunya dapat mencegah dirinya dari perbuatan keji dan munkar sebagaimana firman Allah Yang artinya : Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. (Qur’an Surat Al-ankabut ayat 45 ).

2.    Zakat dan sedekah
Adalah agar tercipta perilaku saling tolong menolong diantara sesame manusia Nabi SAW bersabda:
Artinya : حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ الضَّحَّاكُ بْنُ مَخْلَدٍ عَنْ زَكَرِيَّاءَ بْنِ إِسْحَاقَ عَنْ يَحْيَى بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ صَيْفِيٍّ عَنْ أَبِي مَعْبَدٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ مُعَاذًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَى الْيَمَنِ فَقَالَ ادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ
Telah menceritakan kepada kami Abu 'Ashim Adh-Dlohhak bin Makhlad dari Zakariya' bin Ishaq dari Yahya bin 'Abdullah bin Shayfiy dari Abu Ma'bad dari Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma bahwa ketika Nabi Shallallahu'alaihiwasallam mengutus Mu'adz radliallahu 'anhu ke negeri Yaman, Beliau berkata,: "Ajaklah mereka kepada syahadah (persaksian) tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah. Jika mereka telah mentaatinya, maka beritahukanlah bahwa Allah mewajibkan atas mereka shalat lima waktu sehari semalam. Dan jika mereka telah mena'atinya, maka beritahukanlah bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka shadaqah (zakat) dari harta mereka yang diambil dari orang-orang kaya mereka dan diberikan kepada orang-orang faqir mereka".(HR. Bukhari)

3.    Puasa
Tujuan diperintahkanya puasa adalah agar manusia menjadi orang yang bertaqwa Allah berfirman yang artinya : Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, Qs: Al-baqarah ayat 183)

4.    Haji
Semua orang yang melaksanakan ibadah haji tentu menginginkan agar hajinya mambrur sementara indikator kemabruran ibadah haji adalah memiliki perilaku baik Nabi bersabda:  
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ: «الْعُمْرَةُ إلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إلَّا الْجَنَّةَ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, "Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Satu umrah ke umrah yang lainnya menjadi penebus -dosa- antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga."
Ada yang berkata, "Wahai Rasulullah, apakah kebajikan ibadah haji itu?" Beliau menjawab, "Yaitu memberikan makanan dan menyebarkan salam.  (Subulus salam syarah bulughul maram : 654)
Dengan demikian logika sederhana dari hadis utama diatas adalah karena dalam menjalani kehidupan sehari-hari manusia selalu berinteraksi dengan sesama manusia mulai dari keluarga, tetangga, sahabat rekan kerja, dan lain sebagainya maka ketika mereka berinteraksi dengan akhlak yang baik selama itu pula mereka terus memperoleh pahala dari Allah SWT dikarenakan semua perbuatan baik itu menjadi sedekah baginya dan sedekah itu akan mendatangkan pahala.
Nabi SAW bersabda yang artinya : Dari Abu Dzar, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Setiap ruas persendian manusia menjadi harus disedekahi, ucapan salam bagi yang dijumpainya adalah sedekah, ajakannya kepada kebaikan adalah sedekah, mencegah dari yang munkar adalah sedekah, menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah, dan bersetubuh dengan istrinya juga bernilai sedekah," Para sahabat lalu bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah seseorang yang melampiaskan syahwat juga bernilai sedekah?" Beliau menjawab, "Lalu apa pendapatmu jika ia melakukannya bukan pada tempatnya, tidakkah ia berdosa?" Beliau kembali bersabda, "Selain itu, dua rakaat shalat Dhuha dapat mencukupi itu semua." (HR. Abu daud)
Dalam hadis lain Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Wajib bagi setiap muslim untuk bersedekah." Para sahabat bertanya; "Bagaimana jika ia tidak mendapatkannya? ' Beliau bersabda:: 'Berusaha dengan tangannya, sehingga ia bisa memberi manfaat untuk dirinya dan bersedekah.' Mereka bertanya; 'Bagaimana jika ia tidak bisa melakukannya? ' Beliau bersabda: 'Menolong orang yang sangat memerlukan bantuan.' Mereka bertanya; 'Bagaimana jika ia tidak bisa melakukannya? ' Beliau bersabda: 'Menyuruh untuk melakukan kebaikan atau bersabda; menyuruh melakukan yang ma'ruf' dia berkata; 'Bagaimana jika ia tidak dapat melakukannya? ' Beliau bersabda: 'Menahan diri dari kejahatan, karena itu adalah sedekah baginya.'
Berbeda dengan ibadah-ibadah wajib diatas seperti sholat, zakat, puasa maupun haji kita hanya akan memperoleh pahala ketika kita melakukan ibadah-ibadah tersebut saja, dan akan berhenti disaat kita tidak melaksanakanya, karena ibadah sholat ada ketentuan waktunya, puasa juga hanya pada siang hari saja, zakat juga pada saat harta sudah mencapai haul dan nisabnya, begitu juga dengan ibadah haji juga ditentukan waktunya. Apalagi ketika Sholatnya tidak dapat mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar, puasanya tidak dapat meningkatkan ketakwaanya, dan hajinya tidak dapat melahirkan perilaku baik pada dirinya. Demikianlah Islam mengajarkan kebaikan bagi umatnya. Dan semoga kita semua senantiasa mendapat taufik serta hiyah dari Allah SWT untuk selalu berakhlak dengan akhlak yang mulia Amin ya rabbal ‘alamin
Wallahu A’lam bishawab
Wassalamu ‘alaikum Wr Wb.

SUJIMAN, S.Pd.I., M.A
Artikel yang serupa dapat anda baca di laman http://sujimanae.blogspot.com dan facebook Jimmy gaeck

PENGARUH KETURUNAN DAN LINGKUNGAN TERHADAP PERKEMBANGAN ANAK DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Berbicara Perkembangan anak maka tidak akan terlepas dari membicarakan faktor yang dapat mempengaruhinya. Dalam perspektif teori barat a...